Selasa, 17 April 2012

Negeri Saba'

Kehancuran Negeri Saba’
Posted by: ade defuture on Sunday, 24 April 2011 | Kategori: Cerita

Al-Qur’an adalah mukjizat yang diberikan kepada Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an adalah kitab suci pedoman hidup umat Islam di seluruh dunia. Kebenaran isi Al-Qur’an adalah mutlak karena merupakan kalam Alloh yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Jibril dan merupakan rahmat bagi seluruh umat Islam. Isi yang terkandung di dalam Al-Qur’an mencakup keseluruhan aspek kehidupan manusia. Salah satu yang menjadi perhatian saya kali ini adalah tentang kehancuran Negeri Saba’ yang jelas sekali di ceritakan di dalam Al-Qur’an surat Saba’ ayat 15-16. Berikut terjemahannya:

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda kekuasaan Tuhan di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. Kepada mereka dikatakan: “Makanlah olehmu dari rezeki yang dianugerahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. Negerimu adalah negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Pengampun.” Akan tetapi, mereka berpaling, maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar, dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbuah pahit, yakni pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikian kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab yang demikian itu, melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.

Saba’ adalah salah satu kerajaan yang sangat makmur di dataran timur tengah (Yaman) yang menurut sejarahnya, kerajaan ini ada sekitar 950-1150 sebelum masehi. Pusat pemerintahan kerajaan ini adalah Ma’arib. Pada masa itu, Kerajaan ini terkenal dengan nama Ma’arib yang berarti air yang deras, sehingga berdirilah bendungan Ma’arib untuk mencegah derasnya arus air di daerah tersebut.

Satu banjir yang deras dan sangat hebat telah menghancurkan bendungan Ma’arib dan memporak-porandakan wilayah pemukiman sekitarnya. Bencana ini sangat dahsyat dan meluluhlantahkan seluruh wilayah yang dikuasai oleh kerajaan Saba’. Sebuah negeri yang tadinya penuh dengan taman-taman yang sedap dipandang mata, kebun-kebun yang indah, dan sungai-sungai yang jernih diselingi oleh bangunan-bangunan yang sangat megah dan artistik, telah berubah menjadi lumpur yang membentang luas. Bendungan Ma’arib panjangnya 2 mil dan tingginya 129 kaki. Bendungan tersebut hancur kira-kira abad pertama sebelum masehi.

Mengapa kerajaan Saba di beri azab oleh Alloh? Berikut adalah sebab-sebabnya:

Mengkufuri nikmat Tuhan dengan gaya hidup yang bermegah-megah karena kekayaan yang melimpah.
Menyekutukan Tuhan dengan melakukan penyembahan pada berhala, patung, dan matahari.
Menantang para nabi yang diutus kepada negeri mereka. Tidak beriman, tidak mentaati nabi, dan menghiraukan peringatan-peringatan yang disampaikan para nabi.
Kemaksiatan merajalela dan menolak hukum Alloh.
Indikator pembangunan hanya pada pertumbuhan ekonomi, bukan pada moral dan karakter bangsanya.

Rabu, 07 Maret 2012

Medali Pemberian Khalifah Utsmani kepada Sultan di Jambi

Medali Pemberian Khalifah Ustmani Kepada Utusan Sultan Thaha Syaifuddin dari Jambi
Posted by Admin on 12/04/2011 08:59:00 PM in Headline, Jejak Khilafah, seputar khilafah | 0 komentar

Museum Negeri Jambi banyak menyimpan benda bersejarah . Menurut data yang ada koleksi benda-benda bersejarah Museum Negeri Jambi berjumlah sekitar 2.855 buah. Medali emas bersegi tujuh dari Turki (Khilafah Utsmaniyah ) ini merupakan salah satu dari lima koleksi utama yang menjadi icon museum selain 2 buah arca Avolokiteswara yang terbuat dari emas, , sabuk emas dan kalung emas. Medali bersegi tujuh ini berbentuk seperti matahari terbit dengan dihiasi tujuh buah bintang dan bulan sabit kecil di sekelilingnya.


Di tengah medali, terdapat bundaran warna merah, bertuliskan huruf Arab. Salah satunya adalah angka yang menunjukkan tahun, yaitu 1298 H. Diduga, itu merupakan tahun disaat medali itu diserahkan Khalifah sebagai cinderamata ungkapan tanda pertukaran,cinta dan pujian kepada Utusan Sulthan Thaha Syaifuddin selaku Raja Jambi Kerajaan Jambi pada masa itu yang datang meminta bantuan kepada Khalifah untuk melawan Penjajah Belanda dari Jambi. Terdapat juga bintang dan bulan sabit (seperti di atas kubah masjid) berukuran lebih besar yang merupakan penyatu antara medali dengan rantai. Di rantai itu terdapat enam buah keping bundaran. Pada kepingan itu juga terlihat tulisan Arab.

Sebelumnya, medali tersebut disimpan oleh keluarga kerajaan yang berdiam di Malaysia yang kemudian menyerahkannya kepada pengelola Museum Negeri Jambi untuk dipajang sebagai koleksi museum. Medali itu diberikan Khalifah di Turki kepada utusan Sultan Thaha yang meminta bantuan ke Turki (pusat Kekhilafahan Islam kala itu). “Waktu itu penjajah Belanda kian agresif menyerang Jambi. Maka Sultan Thaha pun meminta bantuan ke Turki. Permintaan bantuan ke Turki ini tentu saja memiliki alasan. Secara histori raja-raja Jambi yaitu Datuk Paduka Berhala memiliki pertalian darah dengan keturunan Turki. “Selain itu, karena di masa itu Turki dianggap sebagai pusat Islam yang sudah maju. Di antara utusan tersebut sepulangnya dari Turki, tidak seluruhnya sampai ke Jambi. Di antara mereka ada yang tidak sampai, karena khawatir tertangkap Belanda. Lalu mereka menetap di Batu Patah, Johor Bahru, Malaysia. (seperti yang dituturkan Ujang Hariadi, Kepala Museum Negeri Jambi dan Kasi Koleksi Dafril Nelfi kepada Jambi Independent)

Berdasarkan penelusuran, akhirnya medali yang sempat berada di Malaysia dan dipegang oleh keturunan utusan Sultan Thaha berhasil dibawa ke Jambi. Menurut Ujang dan Dafril sudah sekitar 3 tahun medali itu menjadi koleksi Museum Negeri Jambi. Sayangnya, secara pasti Ujang tidak mengetahui bagaimana penulusuran itu hingga mendapatkan medali tersebut.

Hubungan historis antara Khilafah Islamiyah dengan para penguasa atau sultan di Nusantara khususnya wilayah Sumatera sudah lama terjalin erat dan harmonis. Bahkan dalam perkembangan penelitian Sejarah Islam di Nusantara diyakini bahwa Islam sudah masuk wilayah Nusantara ini adalah pada abad ke-7 bukan abad ke-13!

Beberapa lembar fakta sejarah terbaru terhadap jejak penerapan syariah di Nusantara khususnya wilayah Sumatera telah mencatat dengan jelas dan otentik mengenai jalinan kerjasama para Sultan dengan Khilafah Islamiyah. Pada tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman pernah mengirim surat kepada khalifah Umar bin abdul Aziz dari Khalifah Bani Umayah meminta dikirimkan da’i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya.

Surat itu berbunyi: “Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukum-Nya.”

Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama 'Sribuza Islam'. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha.

Demikian juga halnya di Tanah Jawa. Hubungan antara Khilafah dengan Tanah Jawa terkait dengan penyebaran Islam juga tidak dapat kita ragukan lagi kebenarannya. Karena kehadirannya begitu jelas dan nyata. Masuknya Islam di tanah Jawa tidak bisa dilepaskan dari Khilafah Utsmaniyah, Sultan Muhammad I sebagai Khalifah pada masa itu telah mengutus secara bergelombang dai-dai ke tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Tersebutlah Maulana Malik Ibrahim (pakar tata negara Turki), Syaikh Jumadil Kubro-Mesir (dimakamkan di komplek Trowulan), Syaikh Maulana Israil, Syaik Ahmad Subakir, Syaikh Samarkand (Asmarokondi), dsb. Dilanjutkan gelombang kedua yang dikenal dengan Wali Songo, diantaranya Sayyid Ja’far Shodiq Al Quds (Sunan Qudus/Ahli Militer) dan Syarif Hidayatullah.

Fakta-fakta sejarah lain yang menggambarkan hubungan antara Nusantara dengan Khilafah Islamiyah :
- Pasukan khilafah Turki Utsmani tiba di Aceh (1566-1577) termasuk para ahli senjata api, penembak dan para teknisi. untuk mengamankan wilayah Syamatiirah(Sumatera) dari Portugis. Dengan bantuan ini Aceh menyerang Portugis di Malaka.
- Kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajarkan cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani. Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi.
- Pengakuan terhadap kebesaran Khilafah dibuktikan dengan adanya dua pucuk surat yang dikirimkan oleh Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah masa Bani Umayah. Surat pertama dikirim kepada Muawiyah dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz.
- Deureuham adalah mata uang Aceh pertama yang diambil dari bahasa Arab dirham. Beratnya 0,57gram kadar 18 karat diameter 1 cm, berhuruf Arab di kedua sisinya.
- Keterkaitan Nusantara atau wilayah Sumatera sebagai bagian dari Khilafah kian nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra Pasai Darussalam oleh utusan Syarif Mekkah. Syarif Mekkah saat itu berwenang sebagai wali (setingkat gubernur) di dalam sistem kekhilafahan Islam.
- Gelar Sultan Kesulatanan Islam di nusantara dinyatakan sah apalbila telah ditetapkan oleh Syarif Makkah. Syarif Makkah adalah pejabat Khilafah Utmaniah setingkat wali/ Gubernur yang diberi kewenangan mengangkat para Sultan.Pada era kolonialisme gelar Sultan amat sangat ditakuti Belanda. Karenaya tidak mengherankan jika Pangeran Diponegoro menyematkan gelarnya: “Senopati Ing Alogo Sultan Abdul Hamid Erucokro Amirul Mukminin Tanah Jowo Sayidi Panotogomo”. Sultan Abdul Hamid adah nama Khalifah Utmaniyah dan Erucokro adalah Sultan Mataram saat itu.

Jadi merupakan suatu sikap ahistoris menolak penerapan Syariah Islam dan Khilafah di negeri ini karena sudah teramat banyak ditemukan sejumlah bukti sejarah yang mengungkapkan hubungan yang sangat erat antara Khilafah Islamiyah dengan sejarah masuknya Islam di negeri ini.

Jejak penerapan syariah dan jalinan kerjasama Kesultanan Islam di Nusantara dengan Khilafah Islam diatas sepantasnya tak hanya sekedar menjadi romantisme sejarah atau nostalgia indah. Pembelaan Khalifah kepada muslim yang didzholimi pun telah terbukti. Karena Para Khalifah ini memahami apa yang dikatakan Baginda Nabi SAW -dari Imam Muslim dari al-A’raj dari Abu Hurairah- : “Sesungguhnya imam (khalifah) itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (bandingkan dengan penguasa negeri-negeri Muslim saat ini yang berdiam diri terhadap kedzholiman yang dialami saudara-saudara mereka di Palestina, Pakistan, Irak, Afghanistan, Moro, Uighur, Uzbekistan dll yang telah dibantai oleh musuh-musuh Alloh dan Rasul-Nya)

Kedamaian dan kesejahteraan yang pernah terwujud di lintasan sejarah penerapan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah ini pun telah diungkapkan secara jujur oleh Will Durant seorang sejarawan Barat :

"Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas, dimana fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas, hingga berbagai ilmu, sastra, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad".

Apa lagi yang kita cari? Sudah teramat lama Islam dan Umat Islam dihinakan, Nabi kita dilecehkan, Al Quran kita disingkirkan, Hukum-hukum Alloh dianggap ketinggalan zaman.

Sesungguhnya kedamaian, kesejahteraan dan kemuliaan umat Islam hanya akan didapat ketika kita mengembalikan Islam sebagai sebuah ideologi yang menjadi landasan berpikir kita, menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai standar baik dan buruk, halal dan haram, mewujudkan Islam sebagai peraturan dalam mengatur segala aspek kehidupan baik dalam ranah individu, masyarakat maupun bernegara.
Dan semuanya itu hanya bisa diterapkan ketika umat Islam diatur oleh Syariah di bawah Naungan Khilafah. Insya Alloh,masa itu telah semakin mendekat.

Sebagai bahan renungan,mari kita renungkan kata-kata yang indah dari Sahabat yang mulia,Umar bin Khatthab semoga Alloh SWT merahmatinya,“Dulunya kita adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah Ta’ala memuliakan kita dengan Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain Islam ini, pasti Allah Ta’ala akan menjadikan kita hina dan rendah”. Wallahu a’lam bi ash shawwab.. []

oleh: Syabab HTI

Referensi :
1) Harian Jambi Independent tanggal 28 September 2007
2) http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Medali-khalifah-2.jpg
3) http://hizbut-tahrir.or.id/2007/09/05/medali-dari-khalifah-ustmani-buat-sultan-jambi/
4) http://www.wisatamelayu.com/id/tour/426-Museum-Negeri-Jambi/navgeo
5) Sunanto, Musyrifah : Sejarah Peradaban Islam, 2005, Rajawali Press, hal 6
6) http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia
7) Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Kesultanan, hal 52-53
8) Will Durant, The Story of Civilization, vol. XIII, hal. 151
9) Imam Al Hakim al-Nishaburi, Al Mustadrak I/130




Raih amal shalih, sebarkan informasi ini....


Artikel Terkait lainnya
Headline
Amerika Serikat Tersungkur, Uni Eropa Terseok-seok, Indonesia?
Siapa Kelompok Radikal dan Ekstrim di Indonesia?
Wadî’ah
Pengkhianatan Rezim Assad
Indonesia Tanpa Sepilis: Membongkar Makar Ideologi AS dan Kaki Tangannya (2)
Historis Liberalisasi Migas dan Implikasinya
Jejak Khilafah
Hubungan Perjuangan Melawan Penjajah Belanda di Indonesia dengan Khilafah Islam
Sejarah Para Khalifah: Abdul Hamid II, Sang Penentang Demokrasi
Abdurrahman al-Ghafiqi Nyaris Menaklukkan Seluruh Eropa
Khilafah Pernah Ada di Indonesia
Angkatan Udara di Era Khilafah Utsmaniyah
seputar khilafah
Pencalonan Diri dalam Khilafah
14 Penemuan Islam Terpenting
Khalifah Peduli Rakyat
Tanggung Jawab Negara Khilafah Melahirkan Generasi Islami
Syariat Islam dalam Pemberantasan Korupsi

Hubungan Perjuang Islam Indonesia dengan khalifah Islam

Hubungan Perjuangan Melawan Penjajah Belanda di Indonesia dengan Khilafah Islam
Posted by Admin on 10/20/2011 07:36:00 PM in Headline, Jejak Khilafah, Jejak Syariah, seputar khilafah | 0 komentar
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan orang/pejabat Belanda bahwa banyak sultan-sultan di Indonesia memberikan baiatnya (sumpah kesetiaan dan kepatuhan) kepada Khalifah di Istanbul. Dengan itu secara efektif kaum Muslim di wilayah Sultan itu menjadi warga negara Khilafah [Negara Islam].

Kaum Muslim di Aceh adalah yang paling menyadari akan status mereka. Koran Sumatera Post menulis tentang ini pada tahun 1922: “Sesungguhnya kaum Muslim Aceh mengakui Khalifah di Istanbul.”

Bukan hanya itu, mereka juga mengakui fakta bahwa tanah mereka adalah bagian dari Negara Islam. Ini adalah salah satu alasan atas perlawanan sengit mereka melawan Belanda. Sebagaimana yang diakui Koran Sumatra Post tahun 1922: “Pada hari ini, serangan-serangan atas kami menjadi hal penting karena merupakan sikap mentalitas atas ide Perang Suci.”

Pan-Islamisme: Konsulat Belanda di Konstantinopel telah memperingatkan pemerintah bahwa utusan rahasia Kaum Muhammedan telah dikirim dari Turki ke Indonesia yang dikuasai, dengan tugas memotivasi orang-orang Islam (untuk memberontak).

“Pan-Islamisme: Konsulat Belanda di Konstantinopel telah memperingatkan pemerintah bahwa utusan rahasia Kaum Muhammedan telah dikirim dari Turki ke Indonesia yang dikuasai, dengan tugas memotivasi orang-orang Islam (untuk memberontak).” Ini adalah artikel Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, tanggal 11 November 1912.


Ada kontak teratur antara kaum Muslim Aceh dan Khalifah di Istanbul. Sebagai contoh, kaum Muslim Aceh mengirim delegasi kepada Khalifah untuk memberitahu situasi mereka dan meminta bantuan dan dukungan Khalifah. Pada tahun 1915, Sumatera Post kembali menyebutkan satu delegasi tersebut, yang dikirim ke Istanbul pada tahun 1868:

Yang lebih penting adalah kontak langsung antara penduduk asli Aceh dan pemerintah Turki. Tidak kurang dari 68 orang bangsawan memohon kepada Khalifah selama tahun 1868 untuk ‘membebaskan mereka dari perbudakan asing, yakni dari orang Belanda. Karena, mereka mengatakan, ‘hal ini semakin besar dan semakin berbahaya dari hari ke hari, dan pada saatnya mereka akan mengendalikan seluruh Aceh’. Karena itu, mereka, orang-orang Aceh itu, meminta ‘dikirimkan tentara dan prajurit, dan mengumumkan kepada semua orang-orang asing bahwa kami (orang-orang Aceh) berada di bawah perlindungan dan merupakan warga negara Khalifah’.

Namun, Khalifah hanyalah satu sisi rakyat Aceh. Koran Nieuw Tilburgsche Courant melaporkan pada tahun 1899 bahwa Negeri Islam Al-Khilafah memberikan pendidikan kepada putra-putra Sultan, untuk mendukung perlawanan mereka melawan Belanda:

Selama beberapa hari terakhir seorang koresponden di Constantinopel melaporkan lagi bahwa tujuh anak bangsawan sudah tiba di sana dan telah diperkenalkan kepada menteri pendidikan, karena mereka akan mengambil pendidikan tinggi. Kaum Muslim dari Jawa telah mengirimkan kepada Sultan (Khalifah) surat ucapan terima kasih karena mengambil anak-anak mereka untuk bisa pergi ke sekolah-sekolah di Negeri (Islam) Sultan itu. Sebagai konsekuensinya, sudah empat belas pemuda dari Indonesia yang dikuasai Indonesia telah menerima pendidikan Islam yang ketat, yang sepenuhnya dibiayai oleh Sultan Constantinopel. Setelah mereka kembali ke tanah air mereka, setelah menimba ajaran Islam akan menjadi pejuang yang alami bagi Quran, untuk melawan ‘anjing-anjing Kristen’ yang memerintah negara mereka.

Khalifah juga mengirimkan perwakilannya ke Indonesia untuk mendukung kaum Muslim. Koran Het Nieuws van den Dag, misalnya, melaporkan tentang seorang konsul dari Khalifah di Batavia bahwa dia mendukung gerakan pan-Islam: “Di Indonesia hanya ada satu konsul, yakni di Batavia, dan dia telah menunjukkan antusiasme yang besar bagi pan-Islamisme. Oleh karena itu, pemerintah memintanya untuk diganti.”

Koran yang sama menginformasikan pembacanya pada tahun 1912 bahwa Khalifah mengirimkan misi rahasia ke Indonesia untuk mendukung kaum Muslim Indonesia: “Konsul Belanda di Konstantinopel telah memperingatkan pemerintah bahwa utusan rahasia Muhammedan telah dikirim dari Turki ke Indonesia yang dikuasai Belanda, dengan tugas memotivasi orang-orang Islam (untuk memberontak).”

Kerjasama juga terjadi sebaliknya. Tatkala Khalifah mengambil keputusan untuk membangun jalur kereta api Hejaaz, Koran Het Nieuws van den Dag mengatakan pada tahun 1905:

Raja Boni telah memberikan 200 Poundsterling untuk mendukung pembangunan jalur kereta api Hejaaz ke tempat-tempat suci agama Islam. Pada saat yang sama, utusan itu menyerahkan kepada (Khalifah) surat penguasa Boni, di mana ia meminta dukungan Khalifah bagi dirinya sendiri dan sekutunya, atas kesulitan mereka dengan para penguasa Belanda.

Pan-Islamisme di provinsi Timur kami: Raja Boni telah memberikan 200 Poundsterling untuk mendukung pembangunan jalur kereta api Hejaaz ke tempat-tempat suci agama Islam

“Pan-Islamisme di provinsi Timur kami: Raja Boni telah memberikan 200 Poundsterling untuk mendukung pembangunan jalur kereta api Hejaaz ke tempat-tempat suci agama Islam“. Ini adalah artikel di Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, tanggal 17 Juli 1905.

Karena hubungan erat antara kaum Muslim Indonesia dan Negara Islam Al-Khilafah, para analis di Belanda mulai khawatir ketika Inggris dan Prancis (antara lain) mulai melakukan kejahatan terhadap kaum Muslim Negara Islam: “Aku takut bahwa kaum Mohammedans kami akan merasakan ketidakadilan yang sedang dilakukan sekarang. Pemberontakan dan ketidakpuasan akan meningkat, baik di Belanda maupun Indonesia.” [Idris De Vriest , aktfis dakwah Belanda ]

Senin, 13 Februari 2012

valentine

Valentine Menurut Islam - Waktu terus bergulir tak terasa kini kita sudah berada di tahun 2012. Tahun yang katanya akan terjadi kiamat ramalan 2012 tersebut diprediksi oleh suka maya. Benar atau tidaknya ramalan tersebut hanya Allah yang tahu, karena dia yang menciptakan bumi ini beserta seluruh isinya.

Nah diawal tahun tepatnya dibulan kedua masehi : Ferbruari ada sebuah tanggal yang katanya hari kasih sayang atau hari valentine. Hari dimana sebagian manusia bumi ini merayakannya dengan suka cita. Namun tahukan anda sejarah valentine dan pandangan valentine menurut islam?

Dibawah ini ada kutipan yang membahas mengenai hari valentine menurut islam atau sudut pandang islam tentang valentine days

Oleh kerana itu Islam amat melarang kepercayaan yang membonceng(mendorong/mengikut) kepada suatu kepercayaan lain atau dalam Islam disebut Taqlid.

Hadis Rasulullah s.a.w:“ Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Firman Allah s.w.t. dalam Surah AL Imran (keluarga Imran) ayat 85 :“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.




HAL-HAL YANG HARUS DIBERI PERHATIAN:-

Dalam masalah Valentine itu perlu difahami secara mendalam terutama dari kaca mata agama kerana kehidupan kita tidak dapat lari atau lepas dari agama (Islam) sebagai pandangan hidup. Berikut ini beberapa hal yang harus difahami di dalam masalah 'Valentine Day'.


1. PRINSIP / DASAR
Valentine Day adalah suatu perayaan yang berdasarkan kepada pesta jamuan 'supercalis' bangsa Romawi kuno di mana setelah mereka masuk Agama Nasrani (kristian), maka berubah menjadi 'acara keagamaan' yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine.


2. SUMBER ASASI
Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan fikiran manusia yang diteruskan oleh pihak gereja. Oleh kerana itu lah , berpegang kepada akal rasional manusia semata-mata, tetapi jika tidak berdasarkan kepada Islam(Allah), maka ia akan tertolak.

Firman Allah swt dalam Surah Al Baqarah ayat 120 :“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.

Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.


3. TUJUAN
Tujuan mencipta dan mengungkapkan rasa kasih sayang di persada bumi adalah baik. Tetapi bukan seminit untuk sehari dan sehari untuk setahun. Dan bukan pula bererti kita harus berkiblat kepada Valentine seolah-olah meninggikan ajaran lain di atas Islam. Islam diutuskan kepada umatnya dengan memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dan menjalinkan persaudaraan yang abadi di bawah naungan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan Rasulullah s.a.w. bersabda :“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri”.


4. OPERASIONAL
Pada umumnya acara Valentine Day diadakan dalam bentuk pesta pora dan huru-hara.
Perhatikanlah firman Allah s.w.t.:“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Surah Al Isra : 27)

Surah Al-Anfal ayat 63 yang berbunyi : “…walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.


Sudah jelas ! Apapun alasannya, kita tidak dapat menerima kebudayaan import dari luar yang nyata-nyata bertentangan dengan keyakinan (akidah) kita. Janganlah kita mengotori akidah kita dengan dalih toleransi dan setia kawan. Kerana kalau dikata toleransi, Islamlah yang paling toleransi di dunia.


Sudah berapa jauhkah kita mengayunkan langkah mengelu-elukan(memuja-muja) Valentine Day ? Sudah semestinya kita menyedari sejak dini(saat ini), agar jangan sampai terperosok lebih jauh lagi. Tidak perlu kita irihati dan cemburu dengan upacara dan bentuk kasih sayang agama lain. Bukankah Allah itu Ar Rahman dan Ar Rohim. Bukan hanya sehari untuk setahun. Dan bukan pula dibungkus dengan hawa nafsu. Tetapi yang jelas kasih sayang di dalam Islam lebih luas dari semua itu. Bahkan Islam itu merupakan 'alternatif' terakhir setelah manusia gagal dengan sistem-sistem lain.


Lihatlah kebangkitan Islam!!! Lihatlah kerosakan-kerosakan yang ditampilkan oleh peradaban Barat baik dalam media massa, televisyen dan sebagainya. Karena sebenarnya Barat hanya mengenali perkara atau urusan yang bersifat materi. Hati mereka kosong dan mereka bagaikan 'robot' yang bernyawa.


MARI ISTIQOMAH (BERPEGANG TEGUH)
Perhatikanlah Firman Allah :
“…dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim”.


Semoga Allah memberikan kepada kita hidayahNya dan ketetapan hati untuk dapat istiqomah dengan Islam sehingga hati kita menerima kebenaran serta menjalankan ajarannya.

Tujuan dari semua itu adalah agar diri kita selalu taat sehingga dengan izin Allah s.w.t. kita dapat berjumpa dengan para Nabi baik Nabi Adam sampai Nabi Muhammad s.a.w.

Firman Allah s.w.t.:
“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka dia akan bersama orang-orang yang diberi nikmat dari golongan Nabi-Nabi, para shiddiq (benar imannya), syuhada, sholihin (orang-orang sholih), mereka itulah sebaik-baik teman”.


Berkata Peguam Zulkifli Nordin (peguam di Malaysia) di dalam kaset 'MURTAD' yang mafhumnya :-

"VALENTINE" adalah nama seorang paderi. Namanya Pedro St. Valentino. 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Sepanyol. Paderi ini umumkan atau isytiharkan hari tersebut sebagai hari 'kasih sayang' kerana pada nya Islam adalah ZALIM!!! Tumbangnya Kerajaan Islam Sepanyol dirayakan sebagai Hari Valentine. Semoga Anda Semua Ambil Pengajaran!!! Jadi.. mengapa kita ingin menyambut Hari Valentine ini kerana hari itu adalah hari jatuhnya kerajaan Islam kita di Sepanyol..

Demikianlah sudut pandang islam menanggapi valentine menurut islam, semoga kita sebagai muslim dapat mengambil kesimpulan dari pembahasan diatas. Amin

Sekilas Info..!!
Mau punya blog seperti Berita Unik? Download panduannya disini.. GRATIS.!!

Hukum merayakan Valentine

Valentine Menurut Pandangan Islam

Diposkan oleh Blog Yudi on Senin, 13 Februari 2012
Yhudiyuba | Valentine Menurut Pandangan Islam. - pada postingan sebelumnya saya udah pernah membahas tentang Valentine Day - Sejarah dan Mitos, nah pada kesempatan kali ini saya akan kembali mencoba membahas tentang valentine day tapi kali ini dalam sudut pandang yang sesuai dengan agama saya ISLAM.


“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah Al-An’am : 116)

Hari Valentine atau biasa disebut dengan hari kasih sayang adalah sebuah hari dimana para remaja2 Eropa dan Amerika merayakannya dengan hura-hura, saling memberi hadiah coklat atau apalah namanya. Bahkan sebagian dari mereka juga merayakan hari valentine ini dengan saling berhubungan seks dengan lawan jenis mereka tanpa ada hubungan suami istri, Naudzubillah min Dzalik (semoga kita tidak termasuk digolongannya, amin).

Kalo di Indonesia bagaimana..?? Seperti yang kita ketahui bersama-sama kalo keadaan remaja di Indonesia sepertinya tidak jauh beda dengan remaja-remaja yang ada di Eropa dan Amerika sana, karena di negara yang notabenenya penduduk muslim terbesar di dunia kini sudah menjiplak habis-habisan perilaku yang jujur sangat melenceng dari kaidah agama kita sebagai Umat Nabi Muhammad SAW.

sobat, sebagai seorang muslim yang taat silahkan tanyakanlah pada diri kita, apakah kta akan mencontohi begitu saja sesuatu yang jelas-jelas bukan bersumber dari Islam?

Mari kita renungkan firman Allah SWT :

“ Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (Surah Al-Isra : 36)

Dalam Islam kata “tahu” berarti mampu mengindera(mengetahui) dengan seluruh panca indera yang dikuasai oleh hati. Pengetahuan yang sampai pada taraf mengangkat isi dan hakikat sebenarnya. Bukan hanya sekedar dapat melihat atau mendengar. Bukan pula sekadar tahu sejarah, tujuannya, apa, siapa, kapan(bila), bagaimana, dan di mana, akan tetapi lebih dari itu.

Oleh karena itu Islam amat melarang kepercayaan yang membonceng(mendorong/mengikut) kepada suatu kepercayaan lain atau dalam Islam disebut Taqlid.

Hadis Rasulullah s.a.w:“ Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.

Firman Allah s.w.t. dalam Surah AL Imran (keluarga Imran) ayat 85 :“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.

Tujuan mencipta dan mengungkapkan rasa kasih sayang di persada bumi adalah baik. Tetapi bukan seminit untuk sehari dan sehari untuk setahun. Dan bukan pula bererti kita harus berkiblat kepada Valentine seolah-olah meninggikan ajaran lain di atas Islam. Islam diutuskan kepada umatnya dengan memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dan menjalinkan persaudaraan yang abadi di bawah naungan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan fikiran manusia yang diteruskan oleh pihak gereja. Oleh kerana itu lah , berpegang kepada akal rasional manusia semata-mata, tetapi jika tidak berdasarkan kepada Islam(Allah), maka ia akan tertolak.

Jadi sesungguhnya renungkanlah sobat Valentine Menurut Pandangan Islam....

Surah Al Baqarah ayat 120 :“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.

Semoga Bermanfaat sobat.

Rabu, 26 Januari 2011

BIOGRAFI SITI HODIJAH

BIOGRAFI SITI KHADIJAH

Posted 5 Februari 2010 by imron fauzi in Ahlul Bait. Ditandai:Rasulullah. 6 Komentar

Siti Khadijah adalah putri Khuwailid bin As’ad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Siti Khadijah dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat, pada tahun 68 sebelum hijrah. Khadijah tumbuh dalam lingkungan yang keluarga yang mulia, sehingga akhirnya setelah dewasa ia menjadi wanita yang cerdas, teguh, dan berperangai luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya yang menaruh simpati padanya. Syaikh Muhammad Husain Salamah menjelaskan bahwa Siti Khadijah, nasab dari jalur ayahnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya yang bernama Qushay. Dia menempati urutan kakek keempat bagi dirinya.

Pada tahun 575 Masehi, Siti Khadijah ditinggalkan ibunya. Sepuluh tahun kemudian ayahnya, Khuwailid, menyusul. Sepeninggal kedua orang tuanya, Khadijah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaannya. Kekayaan warisan menyimpan bahaya. Ia bisa menjadikan seseorang lebih senang tinggal di rumah dan hidup berfoya-foya. Bahaya ini sangat disadari Khadijah. Ia pun memutuskan untuk tidak menjadikan dirinya pengangguran. Kecerdasan dan kekuatan sikap yang dimiliki Khadijah mampu mengatasi godaan harta. Karenanya, Khadijah mengambil alih bisnis keluarga.

Pada mulanya, Siti Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Pernikahan itu membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun. Tak lama kemudian suamianya meninggal dunia, dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Lalu Siti Khadijah menikah lagi untuk yang kedua dengan Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi. Setelah pernikahan itu berjalan beberapa waktu, akhirnya suami keduanya pun meninggal dunia, yang juga meninggalkan harta dan perniagaan.

Dengan demikian, saat itu Siti Khadijah menjadi wanita terkaya di kalangan bangsa Quraisy. Karenanya, banyak pemuka dan bangsawan bangsa Quraisy yang melamarnya, mereka ingin menjadikan dirinya sebagai istri. Namun, Siti Khadijah menolak lamaran mereka dengan alas an bahwa perhatian Khadijah saat itu sedang tertuju hanya untuk mendidik anak-anaknya. Juga dimungkinkan karena, Khadijah merupakan saudagar kaya raya dan disegani sehingga ia sangat sibuk mengurus perniagaan.

Siti Khadijah mempunyai saudara sepupu yang bernama Waraqah bin Naufal. Beliau termasuk salah satu dari hanif di Mekkah. Ia adalah sanak keluarga Khadijah yang tertua. Ia mengutuk bangsa Arab yang menyembah patung dan melakukan penyimpangan dari kepercayaan nenek moyang mereka (nabi Ibrahim dan Ismail).

Para sejawatnya mengakui keberhasilan Siti Khadijah, ketika itu mereka memanggilnya “Ratu Quraisy” dan “Ratu Mekkah”. Ia juga disebut sebagai at-Thahirah, yaitu “yang bersih dan suci”. Nama at-Thahirah itu diberikan oleh sesama bangsa Arab yang juga terkenal dengan kesombongan, keangkuhan, dan kebanggaannya sebagai laki-laki. Karenanya perilaku Khadijah benar-benar patut diteladani hingga ia menjadi terkenal di kalangan mereka.

Pertama kali dalam sejarah bangsa Arab, seorang wanita diberi panggilan Ratu Mekkah dan juga dijuluki at-Thahirah. Orang-orang memanggil Khadijah dengan Ratu Mekkah karena kekayaannya dan menyebut Khadijah dengan at-Thahirah karena reputasinya yang tanpa cacat.

Suatu ketika, Muhammad berkerja mengelola barang dagangan milik Siti Khadijah untuk dijual ke Syam bersama Maisyarah. Setibanya dari berdagang Maysarah menceritakan mengenai perjalanannya, mengenai keuntungan-keuntungannya, dan juga mengenai watak dan kepribadian Muhammad. Setelah mendengar dan melihat perangai manis, pekerti yang luhur, kejujuran, dan kemampuan yang dimiliki Muhammad, kian hari Khadijah semakin mengagumi sosok Muhammad. Selain kekaguman, muncul juga perasaan-perasaan cinta Khadijah kepada Muhammad.

Tibalah hari suci itu. Maka dengan maskawin 20 ekor unta muda, Muhammad menikah dengan Siti Khadijah pada tahun 595 Masehi. Pernikahan itu berlangsung diwakili oleh paman Khadijah, ‘Amr bin Asad. Sedangkan dari pihak keluarga Muhammad diwakili oleh Abu Thalib dan Hamzah. Ketika Menikah, Muhammad berusia 25 tahun, sedangkan Siti Khadijah berusia 40 tahun. Bagi keduanya, perbedaan usia yang terpaut cukup jauh dan harta kekayaan yang tidak sepadan di antara mereka, tidaklah menjadi masalah, karena mereka menikah dilandasi oleh cinta yang tulus, serta pengabdian kepada Allah. Dan, melalui pernikahan itu pula Allah telah memberikan keberkahan dan kemuliaan kepada mereka.

Dari pernikahan itu, Allah menganugerahi mereka dengan beberapa orang anak, maka dari rahim Siti Khadijah lahirlah enam orang anak keturunan Muhammad. Anak-anak itu terdiri dari dua orang laki-laki dan empat orang perempuan. Anak laki-laki mereka, al-Qasim dan dan Abdullah at-Tahir at-Tayyib meninggal saat bayi. Kemudian, empat anak perempuannya adalah Zainab, Ruqayyah, Ummi Kulsum, dan Fatimah az-Zahra. Siti Khadijah mengasuh dan membimbing anak-anaknya dengan bijaksana, lembut, dan penuh kasih sayang, sehingga mereka pun setia dan hormat sekali kepada ibunya.

Setelah berakhirnya pemboikotan kaum Quraisy terhadap kaum muslim, Siti Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan. Semakin hari kondisi kesehatan badannya semakin memburuk. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, dalam usia 60 tahun, wafatlah seorang mujahidah suci yang sabar dan teguh imannya, Sayyidah Siti Khadijah al-Kubra binti Khuwailid.

Siti Khadijah wafat dalam usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi. Ketia itu, usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Beliau dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun.

Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu. Karena dua orang yang dicintainya (Khadijah dan Abu Thalib) telah wafat, maka tahun itu disebut sebagai ‘Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.

Sumber Asli:

Arief, Nurhaeni. Engkau Bidadari Para Penghuni Surga, Kisah Teladan Wanita Saleha. Kafila: Yogyakarta: 2008

Taman, Muslich. Pesona Dua Ummul Mukminin, Teladan Terbaik Menjadi Wanita Sukses dan Mulia. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta. 2008

Razwy, Syeda. A. Khadijah, The Greatest of First Lady of Islam. Alawiyah Abdurrahman (terj.). Mizan Publika: Jakarta. 2007

Selasa, 18 Januari 2011

Proses Pembentukan Hujan

م

الحمد لله رب العالمين, وصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :

Proses terbentuknya hujan masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan.

Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, "bahan baku" hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk. Akhirnya, curahan hujan terlihat.

Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan.

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

Artinya : "Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (QS Ar-Ruum : 48)

Kini, mari kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.


TAHAP KE-1: "Dialah Allah Yang mengirimkan angin..."

Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut "perangkap air".

TAHAP KE-2: “...lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal..."

Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.

TAHAP KE-3: "...lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya..."

Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel -partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’anlah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.